Posts

Deritamu adalah Konten, 40 x 40 cm, akrilik di kanvas, 2025

Image
       Karya ini lahir dari kegelisahan saya terhadap fenomena masyarakat digital yang semakin menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Di era ketika setiap peristiwa dapat direkam, dibagikan, dan dikonsumsi secara massal, batas antara empati dan eksploitasi menjadi semakin kabur. Kesedihan, kemiskinan, konflik, hingga kesulitan hidup sehari-hari kerap berubah menjadi komoditas yang menghasilkan perhatian dan keuntungan bagi pihak lain.      Melalui komposisi yang padat dan sesak, saya menghadirkan kerumunan figur manusia dan makhluk-makhluk hibrida yang saling berdesakan dalam ruang visual yang nyaris tanpa celah. Mereka merepresentasikan masyarakat yang terus bergerak dalam arus informasi, saling mengamati, saling mengomentari, sekaligus saling mengonsumsi pengalaman hidup satu sama lain. Di tengah keramaian itu, tidak ada lagi batas yang jelas antara penonton dan yang ditonton.      Figur utama yang duduk di pusat komposisi menjadi si...

Semua Bisa Dinego, A3 (4 panel), Spidol di kertas, 2025

Image
      Saya hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat diperbincangkan, dipertukarkan, dan ditawar ulang. Nilai, keyakinan, citra diri, bahkan kebenaran sering kali bergeser mengikuti kepentingan yang sedang berkuasa. Dari kegelisahan itulah karya Semua Bisa Dinego lahir.      Melalui empat panel yang dipenuhi ratusan figur, makhluk hibrida, simbol, dan teks yang saling bertabrakan, saya membangun sebuah dunia yang riuh seperti kehidupan sehari-hari. Dunia di mana manusia terus bernegosiasi: dengan orang lain, dengan sistem, dengan kekuasaan, dan sering kali dengan nuraninya sendiri. Tidak ada ruang yang benar-benar kosong karena realitas yang saya rasakan pun demikian; penuh suara, penuh kepentingan, penuh tuntutan untuk terus menyesuaikan diri.      Figur-figur sentral yang hadir pada setiap panel saya tempatkan sebagai representasi berbagai bentuk otoritas dan identitas yang sering dianggap kokoh: pemimpin, pahlawan, tokoh spiri...

CREO, ERGO SUM (Saya mencipta, maka saya ada)

Image
  Sebuah perkenalan untuk keterangan katalog pameran di Meru Artspace kota malang 26 Juni - 26 Agustus 2026: Dalam proses kreatif saya sebagai perupa, kata-kata maupun bentuk-bentuk visual lainya sering kali hadir sebagai lintasan spontan yang mengalir dalam kesadaran. Lintasan tersebut kemudian mendorong saya untuk menerjemahkannya ke dalam medium visual. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari manakah asal-usul kata dan rupa yang melintas itu? Menurut saya, sumbernya berakar pada pengalaman hidup sehari-hari, baik yang hadir dalam wilayah kesadaran maupun yang tersimpan di luar jangkauan kesadaran langsung. Pengalaman tersebut dapat berasal dari berbagai peristiwa sederhana: percakapan yang sepintas terdengar, perjumpaan dengan seseorang, suasana ruang, bunyi-bunyian, maupun berbagai rangsangan yang diserap oleh pancaindra. Sebagian pengalaman itu dikenali dan diingat secara sadar, sementara sebagian lainnya tersimpan sebagai jejak-jejak yang tidak selalu dapat saya lacak...

dialog sunyi [rendering 21]

Image
 

dialog sunyi [rendering 20]

Image
 

dialog sunyi [rendering 19]

Image
 

dialog sunyi [rendering 18]

Image
 

dialog sunyi [rendering 17]

Image
 

dialog sunyi [rendering 16]

Image
 

dialog sunyi [rendering 15]

Image
 

dialog sunyi [rendering 14]

Image
 

dialog sunyi [rendering 13]

Image
 

dialog sunyi [rendering 12]

Image
 

dialog sunyi [rendering 11]

Image
 

dialog sunyi [rendering 10]

Image
 

dialog sunyi [rendering 9]

Image
 

dialog sunyi [rendering 8]

Image
 

dialog sunyi [rendering 7]

Image
 

Dialog Sunyi [rendering 6]

Image
 

Dialog Sunyi [rendering 5]

Image
 

Dialog Sunyi [rendering 4]

Image
 

Dialog Sunyi [rendering3]

Image
 

Dialog Sunyi [rendering2]

Image
  Mimpi dalam tradisi Jawa bukan sekadar bunga tidur, melainkan sasmita—tanda yang mengandung makna kehidupan Dalam khazanah budaya Jawa, mimpi tidak pernah dipahami sekadar sebagai bunga tidur yang hadir tanpa makna. Ia merupakan bagian dari jalinan halus antara batin manusia dan semesta—sebuah ruang di mana kesadaran meredup, tetapi kepekaan justru terbuka. Cara pandang ini dapat ditelusuri melalui Betaljemur Adammakna , khususnya pada bagian pembukanya ( Bubuka ), yang memberi gambaran tentang asal-usul dan cara berpikir di balik kitab tersebut. Dalam Bubuka disebutkan secara jelas bahwa pengarang kitab ini tidak lagi diketahui ( “sinten pangarangipun, sampun boten kesumurpana” ). Pernyataan ini menegaskan bahwa Betaljemur Adammakna bukanlah karya individual dalam pengertian modern, melainkan warisan leluhur ( titilaranipun leluhur ) yang telah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Dengan demikian, pengetahuan yang termuat di dalamnya—termasuk tafsir mimpi—merupakan hasil...

Dialog sunyi [rendering 1]

Image
  Dialog Sunyi: Bayangan tanpa cahaya Dalam proses berkarya di seri Dialog Sunyi ini seringkali saya menangkap momen atau merekamnya dalam ingatan peristiwa-peristiwa yang saya alami dalam mimpi, walaupun tidak sepenuhnya sama persis. namun potongan-potongan visual itu saya hadirkan kembali melalui goresan bulpen di buku sketsa yang memang saya siapkan khusus untuk tema ini. Terkadang saya juga tidak selalu tahu apa yang mendasari kemunculan obyek visual ini hadir. Sebagian dari karya-karya ini memang terilhami oleh mimpi, ini menarik sekali bagi saya karena apa yang terjadi pada mimpi ialah sesuatu yang diselipkan oleh Tuhan ke dalam kesunyian tanpa perlu izin. Di sini muncul kesadaran, dalam ketidaksadaran dan ketidakberdayaan kita ada sesuatu yang tidak bisa kita tolak kehadirannya, atau kedatangannya juga tidak perlu kita paksa. Ia sering hadir tanpa urutan, tanpa logika, tanpa penjelasan. Lalu di saat kita bangun, yang tersisa hanyalah serpihan dan sisa-sisa: bentuk yang tidak...

Brainless Daddy, 45 x 50 cm, akrilik di kanvas

Image
 

BOWO, 45x50 cm, akrilik di kanvas, 250325

Image
 

The fragment of lost memories, Akrilik di kanvas, 45 x 50 cm, 230325

Image
 

The Electric Ghosts, Akrilik di kanvas, 45 x 50 cm, 110325

Image
 

Hush Little Baby, Don't Say a Word! Akrilik di kanvas, 45 x 50 cm, 28225

Image
 

Hilang Akal, 45 x 50 cm, akrilik di kanvas, 22225

Image
 

Deritamu adalah Konten, 40x40 cm, akrilik di kanvas, 250125

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #25)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #24)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #23)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #22)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #21)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #20)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #19)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #18)

Image
  Tak mengapa lelah untuk berubah Sejenak jeda agar tetap bisa melangkah!

Dialog Sunyi (Storybook in silence #17)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #16)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #15)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #14)

Image
 

Dialog Sunyi (Storybook in silence #13)

Image
  Kukira sudah usai Ternyata baru mulai!