Mimpi dalam tradisi Jawa bukan sekadar bunga tidur, melainkan sasmita—tanda yang mengandung makna kehidupan Dalam khazanah budaya Jawa, mimpi tidak pernah dipahami sekadar sebagai bunga tidur yang hadir tanpa makna. Ia merupakan bagian dari jalinan halus antara batin manusia dan semesta—sebuah ruang di mana kesadaran meredup, tetapi kepekaan justru terbuka. Cara pandang ini dapat ditelusuri melalui Betaljemur Adammakna , khususnya pada bagian pembukanya ( Bubuka ), yang memberi gambaran tentang asal-usul dan cara berpikir di balik kitab tersebut. Dalam Bubuka disebutkan secara jelas bahwa pengarang kitab ini tidak lagi diketahui ( “sinten pangarangipun, sampun boten kesumurpana” ). Pernyataan ini menegaskan bahwa Betaljemur Adammakna bukanlah karya individual dalam pengertian modern, melainkan warisan leluhur ( titilaranipun leluhur ) yang telah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Dengan demikian, pengetahuan yang termuat di dalamnya—termasuk tafsir mimpi—merupakan hasil...