Dialog Sunyi [rendering2]

 


Mimpi dalam tradisi Jawa bukan sekadar bunga tidur,

melainkan sasmita—tanda yang mengandung makna kehidupan

Dalam khazanah budaya Jawa, mimpi tidak pernah dipahami sekadar sebagai bunga tidur yang hadir tanpa makna. Ia merupakan bagian dari jalinan halus antara batin manusia dan semesta—sebuah ruang di mana kesadaran meredup, tetapi kepekaan justru terbuka. Cara pandang ini dapat ditelusuri melalui Betaljemur Adammakna, khususnya pada bagian pembukanya (Bubuka), yang memberi gambaran tentang asal-usul dan cara berpikir di balik kitab tersebut.

Dalam Bubuka disebutkan secara jelas bahwa pengarang kitab ini tidak lagi diketahui (“sinten pangarangipun, sampun boten kesumurpana”). Pernyataan ini menegaskan bahwa Betaljemur Adammakna bukanlah karya individual dalam pengertian modern, melainkan warisan leluhur (titilaranipun leluhur) yang telah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Dengan demikian, pengetahuan yang termuat di dalamnya—termasuk tafsir mimpi—merupakan hasil akumulasi pengalaman kolektif masyarakat Jawa yang diwariskan lintas generasi.

Lebih lanjut, Bubuka mengaitkan isi kitab ini dengan lingkungan keraton, yakni sebagai warisan dari Kanjeng Raden Adipati Danurejo, seorang patih pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI di Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam perjalanan hidupnya, ketika telah lanjut usia dan melepaskan jabatannya atas kehendak raja, Danurejo kemudian diangkat menjadi seorang pangeran dengan gelar Pangeran Cakraningrat. Sosok inilah yang dalam teks dipahami sebagai pewaris sekaligus pengembang pengetahuan yang kemudian terangkum dalam kitab primbon tersebut.

Kitab ini kemudian hadir dalam bentuk cetak pada bulan September 1939 oleh penerbit Soemodidjoyo Mahadewika. Proses pembukuan ini tidak mengubah hakikatnya sebagai warisan tradisional, melainkan menjadi sarana untuk menjaga dan menyebarluaskan pengetahuan yang sebelumnya hidup dalam bentuk lisan maupun manuskrip.

Dalam kerangka inilah mimpi dipahami. Betaljemur Adammakna tidak mendefinisikan mimpi secara teoritis, melainkan langsung menghadirkan tafsir-tafsir simbolik. Dari pendekatan tersebut tampak bahwa mimpi dipandang sebagai sasmita—tanda atau isyarat yang berkaitan dengan perjalanan hidup manusia. Ia tidak berbicara secara langsung, melainkan melalui lambang-lambang seperti air, ular, rumah, dan api, yang masing-masing mengandung makna berlapis.

Namun, sebagaimana tersirat dalam nilai-nilai yang disampaikan pada bagian pembuka, pemaknaan terhadap tanda-tanda tersebut tidak dapat dilepaskan dari kualitas batin manusia. Pengetahuan—termasuk tafsir mimpi—tidak akan bermakna apabila tidak dihayati dan diterapkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, mimpi dalam perspektif ini bukanlah ramalan yang pasti, melainkan pesan simbolik yang menuntut kepekaan “rasa” serta kebijaksanaan dalam menafsirkannya.

Lebih jauh, pandangan ini berakar pada kesadaran kosmis orang Jawa bahwa manusia, alam, dan kekuatan yang melingkupinya berada dalam satu kesatuan yang saling terhubung. Mimpi menjadi salah satu jalur komunikasi dalam jaringan tersebut—sebuah bahasa sunyi yang mempertemukan pengalaman batin dengan kemungkinan arah kehidupan.

Dengan demikian, berdasarkan Bubuka Betaljemur Adammakna, mimpi tidak dapat dipisahkan dari tradisi, dari warisan leluhur, dan dari laku hidup manusia itu sendiri. Ia bukan sekadar fenomena tidur, melainkan bagian dari cara orang Jawa membaca dunia: melalui tanda, melalui rasa, dan melalui kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Comments