Dialog sunyi [rendering 1]

 


Dialog Sunyi: Bayangan tanpa cahaya

Dalam proses berkarya di seri Dialog Sunyi ini seringkali saya menangkap momen atau merekamnya dalam ingatan peristiwa-peristiwa yang saya alami dalam mimpi, walaupun tidak sepenuhnya sama persis. namun potongan-potongan visual itu saya hadirkan kembali melalui goresan bulpen di buku sketsa yang memang saya siapkan khusus untuk tema ini. Terkadang saya juga tidak selalu tahu apa yang mendasari kemunculan obyek visual ini hadir.

Sebagian dari karya-karya ini memang terilhami oleh mimpi, ini menarik sekali bagi saya karena apa yang terjadi pada mimpi ialah sesuatu yang diselipkan oleh Tuhan ke dalam kesunyian tanpa perlu izin. Di sini muncul kesadaran, dalam ketidaksadaran dan ketidakberdayaan kita ada sesuatu yang tidak bisa kita tolak kehadirannya, atau kedatangannya juga tidak perlu kita paksa. Ia sering hadir tanpa urutan, tanpa logika, tanpa penjelasan. Lalu di saat kita bangun, yang tersisa hanyalah serpihan dan sisa-sisa: bentuk yang tidak utuh, suasana yang menggantung, dan perasaan yang mungkin enggan untuk pergi. Saya tidak pernah benar-benar bisa mengingatnya secara utuh, hanya merasakan bekasnya—seperti jejak yang tidak ingin sepenuhnya hilang. Dari sini saya merasa perlu menghadirkannya kembali secara visual. Lalu apa manfaatnya bagi saya menghadirkannya kembali dalam bentuk karya? Tentu saja saya ingin memahami diri saya secara utuh dengan cara menjadikan diri sendiri sebagai obyek penelitian untuk memahami hakikat manusia.

Namun tidak semua karya dengan tema ini terinpirasi dari mimpi.

Ada saat-saatnya ketika tangan bergerak tanpa perintah. Garis demi garis muncul, seolah-olah saya hanya menjadi perantara bagi sesuatu yang ingin menampakkan diri. Dalam momen itu, kehendak sadar melemah—bukan menghilang, namun seperti ditarik menjauh. Saya tidak lagi menggambar untuk membentuk, melainkan untuk membiarkan sesuatu terbentuk melalui titik-titik ataupun garis.

Kemudian saya mulai melihat bahwa apa yang muncul bukanlah sesuatu yang baru. Ia seperti bayangan dari sesuatu yang pernah ada—pengalaman yang mengendap, ingatan yang tidak selesai, atau mungkin sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar saya sadari. Bentuk-bentuk itu datang dengan wajah yang berubah: terdistorsi, terpecah, dan sering kali asing, bahkan bagi diri saya sendiri.

Kadang, saya juga menyadari, bahwa yang muncul di dalam kepala saat saya sedang menggambar ialah peristiwa-peristiwa dunia luar—tentang alam yang dilukai, tentang manusia yang saling menghancurkan. Namun semua itu tidak pernah hadir sebagai cerita. Ia muncul sebagai tanda-tanda yang samar, sebagai simbol yang tidak meminta untuk dimengerti, hanya untuk hadir.

Saya tidak ingin mencoba menafsirkannya, saya hanya ingin menyediakan ruang.

Ruang bagi sesuatu untuk menampakkan diri, meski tanpa nama. Ruang bagi titik maupun garis untuk bergerak tanpa arah. Ruang bagi bayangan untuk jatuh, meski terkadang saya tidak benar-benar tahu dari mana cahayanya berasal.

Semuanya hadir dalam kesunyian, bukan ketiadaan! melainkan sebuah kedalaman di mana sesuatu bekerja tanpa suara.

Sunyi bagi saya bukanlah kosong. Ia adalah ruang di mana yang tersembunyi menemukan jalannya untuk muncul. Dalam kesunyian ini, perhatian tidak lagi terikat pada dunia luar. Ia tenggelam ke dalam, menelusuri lapisan-lapisan yang jarang disentuh. Ingatan yang tertinggal, emosi yang tidak selesai, dan jejak pengalaman yang terpendam mulai bergerak—perlahan, namun pasti.

Bahkan dalam tidur, ketika tubuh terlepas dari dunia, kesadaran tidak sepenuhnya padam. Manusia tetap mengalami—melihat dengan mata terpejam, terbang tanpa sayap, hadir dalam peristiwa yang tidak tunduk pada hukum logika. Dalam keadaan ini, kesadaran berubah wujud: tidak lagi terang, tetapi berpendar dalam bentuk yang tidak stabil. Di sanalah, apa yang tersembunyi mulai menemukan bentuknya.

Sebagaimana dikatakan oleh Sigmund Freud, mimpi adalah “the royal road to the unconscious”—jalan sunyi di mana yang terpendam menemukan cara untuk menampakkan diri, meski dalam bentuk yang tersamar.

Sebagaimana dalam mimpi, di mana obyek-obyek visual maupun yang terdengar bahkan sensasi atau emosi muncul tanpa ada kehendak atau dorongan sadar, maka dalam karya-karya ini ada beberapa momen yang mirip seperti peristiwa tersebut. dalam arti apa yang saya goreskan, apa yang saya titikkan hadir tanpa adanya kehendak sadar. titik-titik dan garis-garis itu menemukan bentuknya sendiri. 

Yang lebih menarik bagi saya sebetulnya ialah apa yang melatarbelakangi obyek visual itu hadir. Disinilah proses dialog itu terjadi!

Sebagaimana dipahami oleh Carl Jung, yang tersembunyi dalam diri manusia tidak berbicara melalui kata, melainkan melalui simbol—melalui citra yang tidak selalu dapat dijelaskan, namun tetap terasa benar.

Dalam pengertian lain, seperti yang diungkapkan oleh Jean-Paul Sartre, imaji bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan tindakan kesadaran—cara di mana sesuatu dihadirkan, meskipun tidak sepenuhnya dapat dipahami.

Namun tidak semua yang hadir dapat ditangkap sepenuhnya.

Sebagian tetap berada di ambang—antara muncul dan menghilang.

Karya-karya ini bukanlah penjelasan, ia adalah kemunculan. Sebuah jejak dari sesuatu yang pernah ada, atau mungkin masih ada, namun tidak lagi dapat dilihat secara langsung.

“Dialog sunyi” bukanlah percakapan, ia adalah peristiwa. Peristiwa di mana kesadaran yang redup menyentuh yang tersembunyi, dan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami perlahan mengambil bentuk.

Tidak menawarkan terang.

Ia hanya membuka ruang.

Ruang untuk masuk.

Ruang untuk tersesat.

Ya, mungkin ruang untuk ngglambyar!

Ruang untuk berhadapan dengan bayangan yang mungkin bukan milik siapa pun, namun terasa dekat.

Dan pada akhirnya, yang tersisa bukanlah jawaban—melainkan kesadaran bahwa dalam gelap, selalu ada sesuatu yang melihat, dan sesuatu yang menunggu untuk dilihat.


Comments