Deritamu adalah Konten, 40 x 40 cm, akrilik di kanvas, 2025
Karya ini lahir dari kegelisahan saya terhadap fenomena masyarakat digital yang semakin menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Di era ketika setiap peristiwa dapat direkam, dibagikan, dan dikonsumsi secara massal, batas antara empati dan eksploitasi menjadi semakin kabur. Kesedihan, kemiskinan, konflik, hingga kesulitan hidup sehari-hari kerap berubah menjadi komoditas yang menghasilkan perhatian dan keuntungan bagi pihak lain. Melalui komposisi yang padat dan sesak, saya menghadirkan kerumunan figur manusia dan makhluk-makhluk hibrida yang saling berdesakan dalam ruang visual yang nyaris tanpa celah. Mereka merepresentasikan masyarakat yang terus bergerak dalam arus informasi, saling mengamati, saling mengomentari, sekaligus saling mengonsumsi pengalaman hidup satu sama lain. Di tengah keramaian itu, tidak ada lagi batas yang jelas antara penonton dan yang ditonton. Figur utama yang duduk di pusat komposisi menjadi si...