Deritamu adalah Konten, 40 x 40 cm, akrilik di kanvas, 2025

 

    Karya ini lahir dari kegelisahan saya terhadap fenomena masyarakat digital yang semakin menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Di era ketika setiap peristiwa dapat direkam, dibagikan, dan dikonsumsi secara massal, batas antara empati dan eksploitasi menjadi semakin kabur. Kesedihan, kemiskinan, konflik, hingga kesulitan hidup sehari-hari kerap berubah menjadi komoditas yang menghasilkan perhatian dan keuntungan bagi pihak lain.

    Melalui komposisi yang padat dan sesak, saya menghadirkan kerumunan figur manusia dan makhluk-makhluk hibrida yang saling berdesakan dalam ruang visual yang nyaris tanpa celah. Mereka merepresentasikan masyarakat yang terus bergerak dalam arus informasi, saling mengamati, saling mengomentari, sekaligus saling mengonsumsi pengalaman hidup satu sama lain. Di tengah keramaian itu, tidak ada lagi batas yang jelas antara penonton dan yang ditonton.

    Figur utama yang duduk di pusat komposisi menjadi simbol manusia yang menyaksikan berbagai absurditas sosial yang berlangsung di sekitarnya. Salah satu elemen yang sengaja saya hadirkan adalah tulisan "2000 Tidak Membuatmu Miskin", sebuah kalimat yang sering ditemukan dalam praktik parkir informal di ruang-ruang publik. Kalimat tersebut saya gunakan sebagai bentuk satire terhadap logika yang kerap membenarkan pungutan kecil seolah-olah tidak berarti, padahal akumulasi praktik semacam itu telah menjadi bagian dari beban ekonomi masyarakat sehari-hari.

    Bagi saya, persoalannya bukan terletak pada angka dua ribu rupiah itu sendiri. Persoalannya adalah ketika ruang publik dipenuhi berbagai pungutan yang dianggap wajar meskipun tidak selalu disertai tanggung jawab, pelayanan, atau legitimasi yang jelas. Ironinya, biaya parkir sering kali jauh lebih besar daripada kebutuhan utama yang sedang diakses. Seseorang dapat membayar fotokopi lima ratus rupiah, tetapi harus mengeluarkan dua ribu rupiah untuk parkir kendaraannya. Situasi ini menghadirkan bentuk absurditas yang diterima begitu saja karena telah menjadi kebiasaan kolektif.

    Kehadiran slogan tersebut juga berkaitan dengan tema besar karya ini. Dalam kehidupan sosial maupun ruang digital, sering kali penderitaan masyarakat dijadikan narasi yang dapat diperdagangkan, dibenarkan, atau bahkan dimonetisasi. Keluhan rakyat menjadi bahan konten, kesulitan ekonomi menjadi bahan hiburan, dan ketidaknyamanan publik berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal karena terus-menerus direproduksi.

    Melalui warna-warna yang cerah, bentuk yang naif, dan suasana yang tampak riuh, saya berusaha menghadirkan paradoks antara hiburan dan kritik. Penonton diajak tertawa, tetapi sekaligus merenungkan berbagai praktik sosial yang selama ini dianggap biasa. Sebab sering kali yang paling problematis bukanlah sesuatu yang besar dan mencolok, melainkan hal-hal kecil yang terus berulang hingga akhirnya diterima sebagai kewajaran.

    Deritamu adalah Konten pada akhirnya merupakan refleksi tentang masyarakat yang hidup di tengah budaya konsumsi informasi dan normalisasi berbagai bentuk ketidakadilan sehari-hari. Sebuah pertanyaan yang saya ajukan melalui karya ini: ketika kesulitan hidup terus dipertontonkan dan diterima sebagai hal biasa, apakah kita masih mampu merasakan derita orang lain sebagai kenyataan, ataukah ia telah berubah menjadi sekadar tontonan yang lewat di hadapan mata?


Comments