Semua Bisa Dinego, A3 (4 panel), Spidol di kertas, 2025

   





 Saya hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat diperbincangkan, dipertukarkan, dan ditawar ulang. Nilai, keyakinan, citra diri, bahkan kebenaran sering kali bergeser mengikuti kepentingan yang sedang berkuasa. Dari kegelisahan itulah karya Semua Bisa Dinego lahir.

    Melalui empat panel yang dipenuhi ratusan figur, makhluk hibrida, simbol, dan teks yang saling bertabrakan, saya membangun sebuah dunia yang riuh seperti kehidupan sehari-hari. Dunia di mana manusia terus bernegosiasi: dengan orang lain, dengan sistem, dengan kekuasaan, dan sering kali dengan nuraninya sendiri. Tidak ada ruang yang benar-benar kosong karena realitas yang saya rasakan pun demikian; penuh suara, penuh kepentingan, penuh tuntutan untuk terus menyesuaikan diri.

    Figur-figur sentral yang hadir pada setiap panel saya tempatkan sebagai representasi berbagai bentuk otoritas dan identitas yang sering dianggap kokoh: pemimpin, pahlawan, tokoh spiritual, penyelamat, atau simbol kebajikan. Namun mereka sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang rapuh, yakni kerumunan hasrat, ambisi, ketakutan, dan kepentingan yang terus bergerak. Dalam pandangan saya, tidak ada posisi yang benar-benar aman dari proses negosiasi.

    Pilihan warna-warna yang terang dan kontras sengaja saya gunakan untuk menciptakan kesan meriah sekaligus satiris. Saya ingin mengajak penonton memasuki karya ini dengan rasa senang dan penasaran, sebelum kemudian menyadari bahwa di balik keriuhan visual tersebut tersembunyi pertanyaan-pertanyaan yang lebih serius. Mengapa manusia begitu mudah berkompromi dengan nilai yang diyakininya? Mengapa sesuatu yang dianggap sakral hari ini dapat berubah menjadi komoditas esok hari?

    Karya ini tidak saya ciptakan untuk memberikan jawaban. Sebaliknya, saya ingin menghadirkan ruang refleksi tentang keadaan manusia kontemporer yang hidup dalam budaya transaksi. Ketika segala sesuatu dapat dinegosiasikan, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang sesungguhnya masih layak dipertahankan? Apa yang tidak memiliki harga?

    Sebagai perupa, saya menemukan bahwa penciptaan adalah salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan saya di tengah arus kompromi yang tak berkesudahan. Karena itu, karya ini sekaligus menjadi pernyataan personal tentang keberanian untuk terus mencipta, mempertanyakan, dan memaknai dunia. Seperti ungkapan yang saya yakini:

Creo, ergo sum.

Aku mencipta, maka aku ada.

    Melalui Semua Bisa Dinego, saya tidak sedang menawarkan kesimpulan, melainkan mengundang penonton untuk memasuki sebuah arena perundingan yang lebih dalam: perundingan dengan dirinya sendiri. Sebab mungkin yang paling sulit untuk dinegosiasikan bukanlah kepentingan, melainkan kejujuran terhadap siapa diri kita sebenarnya.

Comments