CREO, ERGO SUM (Saya mencipta, maka saya ada)

 



Sebuah perkenalan untuk keterangan katalog pameran di Meru Artspace kota malang 26 Juni - 26 Agustus 2026:

Dalam proses kreatif saya sebagai perupa, kata-kata maupun bentuk-bentuk visual lainya sering kali hadir sebagai lintasan spontan yang mengalir dalam kesadaran. Lintasan tersebut kemudian mendorong saya untuk menerjemahkannya ke dalam medium visual. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari manakah asal-usul kata dan rupa yang melintas itu?

Menurut saya, sumbernya berakar pada pengalaman hidup sehari-hari, baik yang hadir dalam wilayah kesadaran maupun yang tersimpan di luar jangkauan kesadaran langsung. Pengalaman tersebut dapat berasal dari berbagai peristiwa sederhana: percakapan yang sepintas terdengar, perjumpaan dengan seseorang, suasana ruang, bunyi-bunyian, maupun berbagai rangsangan yang diserap oleh pancaindra. Sebagian pengalaman itu dikenali dan diingat secara sadar, sementara sebagian lainnya tersimpan sebagai jejak-jejak yang tidak selalu dapat saya lacak asal-usulnya.

Dalam konteks ini, saya melihat proses berkarya sebagai upaya menangkap kembali fragmen-fragmen pengalaman yang muncul di antara kesadaran dan ketidaksadaran. Apa yang kemudian hadir di atas kanvas merupakan hasil tangkapan atas lintasan kata dan rupa yang muncul pada momen tertentu. Terkadang lintasan tersebut menghadirkan makna yang jelas dan dapat dirumuskan, tetapi tidak jarang pula ia hadir sebagai bentuk yang ambigu, terbuka, dan sulit dijelaskan secara rasional.

Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa kesadaran selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu” (consciousness is always consciousness of something). Kesadaran tidak pernah kosong; ia senantiasa bergerak menuju dunia, menyerap pengalaman, lalu membentuk hubungan-hubungan makna yang terus berubah. Dalam proses penciptaan, saya memandang karya sebagai manifestasi dari gerak kesadaran tersebut—sebuah perjumpaan antara pengalaman yang dialami, pengalaman yang tersimpan, dan kebebasan imajinasi untuk membentuk kemungkinan-kemungkinan baru.

Atas dasar itu, saya memaknai praktik berkesenian bukan sekadar sebagai kegiatan menghasilkan objek visual, melainkan sebagai cara mengafirmasi keberadaan diri. Jika René Descartes merumuskan keberadaan manusia melalui ungkapan Cogito, ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada) maka dalam praktik artistik saya, ungkapan tersebut menemukan bentuk yang berbeda: Creo Ergo Sum (Saya mencipta, maka saya ada)!

Mencipta adalah tindakan menghadirkan diri ke dalam dunia. Setiap garis, warna, bentuk, maupun simbol yang lahir di atas kanvas maupun media lainnya merupakan jejak dari perjumpaan saya dengan pengalaman, ingatan, intuisi, dan kemungkinan-kemungkinan yang terus bergerak dalam kesadaran. Melalui proses penciptaan, saya tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga terus-menerus membentuk, mengenali, dan menegaskan keberadaan saya sebagai manusia.

Karena itu, saya tidak menempatkan makna sebagai tujuan yang harus selalu hadir secara mutlak dalam setiap karya. Ada kalanya karya lahir sebagai respons yang dapat dijelaskan secara konseptual, tetapi ada pula yang muncul sebagai ekspresi intuitif yang belum tentu menuntut penafsiran tunggal. Saya memberi ruang bagi keduanya untuk hadir secara setara. Bagi saya, berkarya adalah tindakan eksistensial: sebuah usaha untuk menghadirkan pengalaman batin ke dalam bentuk visual, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya makna-makna baru yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh penciptanya sendiri.

Pada akhirnya, setiap karya merupakan jejak dari dialog yang tak pernah selesai antara kesadaran dan ketidaksadaran, antara pengalaman dan imajinasi, antara diri dan dunia. Dan melalui dialog itulah saya terus menegaskan satu keyakinan: saya mencipta, maka saya ada!

Comments